Breaking News

library javascript

Rekomendasi Library Javascript untuk Augmented Reality

Bicara tentang manfaat teknologi, khususnya bagi programmer, tampaknya library Javascript tidak bisa dilewatkan begitu saja. Bagaimana tidak? Dengan kehadirannya, programmer bisa menghemat banyak waktu, tenaga, dan pikiran.

Dari sekian banyak fungsi library javascript, dalam artikel kali ini kita akan membahas satu fungsi spesifik, yaitu Library Javascript Augmented Reality (AR). Melihat trend AR yang terus berkembang dari tahun ke tahun, sebagai programmer Anda dituntut untuk menguasainya secepat mungkin. 

Manfaat library javascript

Library merupakan kumpulan kode Javascript yang sudah dituliskan oleh seorang programmer. Kodenya sendiri berbeda-beda tergantung dari fungsi dan keperluan programmer. Bagusnya, library bisa dimanfaatkan oleh siapa saja. Termasuk bagi Anda yang baru belajar. 

Salah satu fungsi library Javascript yang sering kamu temukan adalah fitur-fitur interaktif dalam sebuah website. Mulai dari drop-down menu, tombol-tombol, hingga plugin tertentu yang memudahkan pengunjung. 

Tak jarang, antara satu website dengan yang lainnya memiliki fitur interaktif yang serupa karena memang kode yang digunakan juga sama. Misalnya fitur drop-down menu, hampir semua website punya fitur ini, yang membedakan hanya design-nya saja. 

Three.js

Three.js adalah Library Javascript yang kerap digunakan untuk visual 3D (termasuk AR), dan juga game. Kode ini bisa dijalan dengan WebGL atau Web Graphic Library yang memang merupakan sebuah API Javascript untuk rendering grafik 2D maupun 3D. 

Sekitar bulan April 2010 lalu, Ricardo Cabello mengembangkan library ini lewat repositori Github miliknya. Awalnya, Cabello mengembangkan Three.js dengan Action Script yang sering digunakan dalam Adobe Animate. 

Akan tetapi, agar library ini bisa digunakan siapa saja dan tidak terikat dengan satu platform khusus, Cabello menulis ulang dengan menggunakan Javascript. Salah satu kelebihan utama Three.js adalah kemudahan dalam penggunaannya sebab tidak perlu disusun ketika dijalankan plus sudah kompatibel dengan berbagai browser. 

AR.js

Kebutuhan Augmented Reality semakin meningkat belakangan ini, sayangnya tak sedikit programmer yang masih menggunakan cara rumit untuk membuatnya. Terlepas dari teknik tingkat tinggi, AR juga biasanya bersifat app-based.

Dengan kata lain, fitur-fitur AR ini hanya dapat diakses melalui aplikasi khusus sehingga pengguna harus mengunduh aplikasi yang berujung pada penuhnya storage penyimpanan gawai mereka. 

Nah, AR.js hadir dengan visi untuk membuat AR menjadi eksklusif, bisa digunakan oleh siapa saja. Baik para programmer maupun pengguna. Dengan library ini, programmer jadi bisa fokus pada kreativitas tanpa memikirkan integritas. Selain itu, proses pembuatan juga tidak perlu dimulai dari nol. 

Sementara pengguna, dapat menggunakan AR melalui website karena library AR.js sudah kompatibel dengan berbagai jenis browser. 

Webxr

Sejak tahun 2020, banyak programmer dan developer yang memperkirakan bahwa Webxr akan semakin berkembang pesat dalam beberapa tahun. Menariknya, prediksi ini sudah mulai terlihat dari sekarang. 

Webxr atau Web Extended Reality atau Cross Reality merupakan library yang sudah populer sejak tahun 2018 lalu. Library yang menjadi evolusi paling anyar dari Web VR ini memiliki banyak kelebihan, lho. 

Bukan sekadar membawa fungsionalitas virtual, library ini juga menyediakan Augmented Reality serta berbagai teknologi immersive lain ke dalam sebuah website, secara bersamaan. 

Kombinasi dari AR, Virtual Reality, serta teknologi immersive lain di dalamnya inilah yang kemudian dikenal sebagai Webxr. Teknologi ini diciptakan untuk membantu programmer dan developer membangun sebuah website yang modern. 

Webxr memungkinkan sebuah website untuk memiliki fitur 3D immersive, tampilan yang interaktif, serta virtual reality. Bagusnya lagi, semua ini bisa diakses di seluruh gawai. Meski belum banyak, namun di tahun 2022 ini sudah mulai bermunculan konten-konten website yang dilengkapi teknologi virtual reality. 

Viro

Library Javascript Augmented Reality selanjutnya adalah Viro. Library ini sering dimanfaatkan untuk membuat aplikasi media atau telekomunikasi. Programmer yang ingin menggunakan Viro harus menulisnya dalam React Native atau Expo React Native. 

Yang menarik dari Viro adalah kemampuannya untuk mengambil foto tur 360 yang objeknya bisa di-klik, organ tubuh manusia, video dengan tombol play/pause interaktif, showcase product, hingga AR poster demo.

Exokit

Exokit merupakan library Javascript yang biasa dimanfaatkan untuk membuat aplikasi Virtual Reality, seperti Metaverse. Dikembangkan oleh Avaer Kazmer, Exokit ini merupaka sebuah inovasi yang memungkinkan pengguna untuk membangun serta menjalankan banyak website 3D dalam waktu yang sama. 

Pada dasarnya Exokit ini merupakan native 3D yang menyediakan native hooks untuk WebGL, Webxr, Webvr, Webaudio, dan berbagai API lain yang biasa digunakan untuk memberikan pengalaman yang immersive pada pengguna. 

Sebagai programmer, Anda dapat memanfaatkannya untuk memuat halaman website yang dibangung menggunakan framework favorit Anda. Misalnya seperti Three.js, A-Frame, Babylon.js, dan yang lainnya. 

Nah, Exokit ini dibangun menggunakan Node.js yang kerap dimanfaatkan untuk keperluan grafis 3D, namun bisa juga untuk meniru grafis 2D. Misalnya, Anda meniru sebuah browser 2D yang mirip dengan Google Chrome. 

Idealnya seorang programmer dapat menyematkan aplikasi webxr dalam berbagai macam layers dalam AR. Persis seperti layers yang ada di dalam software edit gambar seperti Photoshop atau Gimp. Bedanya, Exokit diterapkan dalam 3D website. 

Jenis-jenis library javascript lain yang perlu Anda pelajari

Selain library javascript untuk keperluan Augmented Reality (AR), Anda juga perlu mempelajari jenis-jenis library lain. Dengan begitu, ketika Anda mendapatkan projek lain, Anda bisa tahu apa library yang paling cocok. 

Berikut ini daftar jenis-jenis library javascript tersebut:

  1. React. Ini adalah library javascript yang dikembangkan oleh Facebook dan termasuk yang paling populer. Di dalamnya berisi kode-kode yang interaktif dan juga kompleks.
  2. Vue.js. Library yang tergolong ringan serta mudah diintegrasikan dengan framework atau library lainnya.
  3. Ember.js. Ini merupakan library dengan banyak add-ons yang bisa Anda gunakan. Kelebihan utamanya yaitu mudah di-update meskipun kodenya sudah ada sejak lama.
  4. Bideo.js. Library yang digunakan khusus untuk membuat background video pada sebuah website.
  5. Anime.js. Library yang khusus digunakan untuk mengembangkan animasi modern.
  6. Chart.js. Library yang banyak dimanfaatkan oleh programmer saat mendesain grafik dari sebuah data.
  7. Meteor.js. Termasuk library back-end yang bisa Anda manfaatkan untuk mengatur logic dari server, maupun full-stack.

Catatan tambahan tentang library javascript

Terkadang ketika Anda mempelajari library javascript, Anda akan menemukan istilah Javascript framework (JSF). Anehnya, tak sedikit programmer pemula yang masih sering tertukar antara keduanya. Padahal ada perbedaan yang cukup signifikan antara library javascript dengan javascript framework. 

Perbedaan tersebut adalah kebebasan programmer dalam menulis kode serta membangun website. Javascript framework adalah alat yang memberikan kerangka kode dari situs pada developer. Karena itu disebut sebagai “framework” atau kerangka. Kerangka inilah yang akan diisi dengan kebutuhan-kebutuhan developer.

Sedangkan javascript library tidak memiliki kerangka sama sekali, jadi programmer memiliki kebebasan untuk menulis kode yang dibutuhkan, tergantung dari keperluannya. 

Baca Juga: 3 Teknologi Handal untuk Membangun Aplikasi Mobile Multi Platform

Leave a Reply

Your email address will not be published.