Breaking News

kecanduan-internet

Aktivitas Negatif yang Sering Dilakukan Warganet Indonesia

Internet telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat, bahkan ada istilah warganet atau warga internet bagi mereka yang aktif menggunakan internet dikehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil analisis data App Annie, Indonesia berada di posisi kedua dalam kategori negara dengan waktu akses aplikasi ponsel terlama di dunia.. Setidaknya  5,3 jam per hari untuk berselancar di internet. Hal ini bisa menjadi aktivitas negatif bagi warganet.

Dengan selisih 0,1 jam, Brazil menempati urutan pertama pada kategori tersebut. Berdasarkan survei, hanya Brazil dan Indonesia yang menembus angka 5 jam dalam hal durasi penggunaan internet per harinya. Indonesia memang negara yang besar. Jumlah penduduknya saja mencapai angka lebih dari 260 juta. Maka, tak heran jika negara ini berada di posisi keempat dengan jumlah pengguna internet 73% banyaknya.

Di era digital sekaligus pandemi, aktivitas keseharian berubah cukup drastis. Warganet pun terus bermunculan dari usia muda hingga tua. Smartphone kini selalu berada dalam genggaman, apapun kejadiannya, tangan selalu siap untuk menekan tombol perekam. Masyarakat tidak bisa terlepas dari teknologi yang satu ini.

Namun, ada beberapa aktivitas negatif yang menjadi kebiasaan sebagian warganet. Berikut ini rangkumannya.

Doom scrolling

Seorang psikolog asal California, Dr. Carla Marie Manly mengungkapkan bahwa manusia cenderung merasa lebih aman jika selalu mengetahui update informasi. Di era serba digital dan internet, warganet memiliki kesempatan yang luas untuk terus mengupdate pengetahuannya. Namun, sebagian besar tidak menyadari munculnya rasa takut, cemas, stres hingga depresi akibat terus terpapar berbagai macam informasi, termasuk informasi negatif.

Umumnya, warganet mengalihkan diri dari realitas kehidupan menuju dunia maya untuk medapatkan kesegaran atau mencari hiburan. Caranya dengan mengakses aneka informasi. Biasanya warganet lebih senang memantengi ponselnya dengan sajian informasi random.

Rasa ingin tahu yang terus memuncak membuat warganet berlama-lama menghabiskan waktu di depan layar ponselnya. Aktivitas ini sering disebut scrolling, terus menggeser layar untuk melihat berbagai macam konten. Baik informasi positif maupun negatif akan berakhir negatif jika tidak ditanggapi secara bijak. Kebijakan inilah yang kerap menjadi titik lemah para pengguna internet.

Dari sekedar iseng mencari hiburan, tanpa sadar yang terjadi adalah doomscrolling dimana seseorang terus menerus melakukan scrolling hingga aktivitas warganet tersebut memberikan dampak negatif terhadap dirinya sendiri. Dampak yang paling sering dialami adalah gangguan tidur yang kemudian diikuti dengan rasa cemas, kontrol emosi menurun hingga gejala yang lebih parah.

kecanduan internet

Komentar Negatif

Warganet Indonesia pernah dinobatkan sebagai warganet paling tidak sopan se-Asia. Hal ini merupakan salah satu cap yang sangat negatif, berbanding terbalik dengan realitas yang biasa dipercaya oleh sebagian besar orang tentang keramahan warga Indonesia. Bahkan warganet Indonesia sendiri menyematkan kata bar-bar pada banyak renspon sebagian besar pengguna internet tersebut.

Menuliskan komentar negatif berbau nyinyir tidak lagi menjadi aktivitas tabu. Hampir setiap konten ditaburi komentar negatif dari warganet. Cyber bullying kini benar-benar nyata terjadi. Sebagian besar warganet yang kerap memberikan komentar negatif cenderung tidak menunjukkan empati terhadap apa yang mungkin akan dirasakan oleh orang yang dikomentari.

Kolom komentar sejatinya digunakan untuk saling berbagi, tentu saja tak harus selalu berisi pujian, namun juga dihadirkan untuk menyediakan ruang bagi mereka yang ingin memberi kritik dan saran. Sayangnya, konotasi kritik kini telah banyak berubah, kritik  tidak lagi membangun dan mulai diganti dengan kata-kata kasar nan menyindir. Jika aktif mengamati media sosial, Anda akan menemukan aktivitas negatif warganet yang tidak layak berada di dunia maya.

Baca Juga :Dampak Negatif TikTok Hingga Pemblokiran Jutaan Akun

Membuat Konten Provokatif

Setelah sebelumnya membahas perkara komentar, kini kita beralih kepada hal yang dikomentari, konten. Tak kalah banyak dari komentar negatif, konten provokatif juga banyak muncul belakangan. Konten-konten provokatif umumnya memiliki misi khusus untuk memengaruhi massa atau para penikmat konten agar memiliki cara pandang yang sama.

Tidak jarang, konten provokatif mendatangkan perang di kolom komentar. Hal ini menimbulkan lebih banyak suasana negatif di internet. Mestinya, setiap kebebasan yang kita miliki dimanfaatkan sebaik-baiknya. Membuat konten provokatif untuk memengaruhi atau menyudutkan pihak tertentu tidak akan memberikn dampak positif, yang ada hanya suasana negatif yang membuat para warganet semakin tidak terdidik.

Menyebar Hoax/Berita Palsu

Kecepatan persebaran informasi memang memiliki sisi positif, namun selalu ada celah ketika penggunanya tidak memanfaatkan teknologi secara bijak. Sejak dulu penyebaran hoax atau berita palsu menjadi salah satu masalah yang sulit ditangani. Kini menyebarkan sebuah informasi dapat dilakukan dengan kecepatan berkali-kali lipat. Jika isinya menarik dan provokatif, warganet akan menyebarkannya dengan sangat mudah, tanpa melakukan pengecekan lebih lanjut.

Begitu satu berita bohong tersebar, sebagian besar warganet akan percaya begitu saja. Saking cepatnya, bahkan ketika berita tersebut diklarifikasi, penyebaran berita bohong tidak berhenti seketika. Itulah pentingnya tidak langsung memercayai sebuah informasi, selaku warganet yang baik sudah semestinya lebih dulu mengecek kebenaran informasi yang diterima.

Latah dalam Menanggapi Informasi

Kebiasaan ini membuat sebagian besar warganet menjadi impulsif. Ketika menerima sebuah informasi, sikap yang diambil cenderung latah. Entah itu dengan berkomentar sembarangan, mempercayai informasi begitu saja atau menyebarkan konten tanpa pengecekan.

Ada banyak dampak negatif yang bisa dialami hanya dengan rasa ‘percaya’. Mempercayai ramuan tertentu dapat menurunkan berat badan secara cepat, membuat seseorang bertindak sesuai informasi yang diberikan. Membuat ramuan tersebut lalu meminumnya, tanpa benar-benar tahu dampak apa yang akan ia terima.

Pada contoh kecil yang tidak berbahaya, mungkin semuanya akan tetap aman. Tapi bayangkan jika kesalahan informasi memberikan dampak yang fatal. Informasi yang diterima mestinya bisa direnungkan terlebih dahulu. Apakah isinya sesuai dengan fakta, apa tujuan informasi tersebut, apa manfaat mengetahui informasi tersebut. Setelah mendapatkan keyakinan bahwa informasi tersebut tidak akan menimbulkan masalah, barulah bisa menanggapi, membagikan atau menerapkannya.

Sesungguhnya, teknologi dihadirkan untuk mempermudah proses kehidupan manusia. Namun, kian lama kehadiran teknologi mulai memunculkan adiksi, khususnya terhadap smartphone yang hampir selalu ada dalam genggaman. Dari yang tadinya sekedar alat untuk menjalin komunikasi jarak jauh, kini sudah beralih menjadi bagian dari gaya hidup. Secara fitur dan fungsinya, smartphone memang dibuat untuk menjadi dibutuhkan. Oleh karena itu, kitalah yang harus mampu menahan diri agar tidak terjangkit adiksi. Bagaimana caranya?

Pertama, kuatkan komitmen untuk menggunakan smartphone hanya saat dibutuhkan.

Biarkan kebijaksanaan Anda mengatur semuanya, jangan sampai Anda diatur oleh ego dan keinginan semata. Bermain smartphone memang menyenangkan, ada banyak hal yang bisa Anda lihat di dalamnya. Namun, ingatlah kesenangan tersebut hanya akan membuat Anda terjebak.

Kedua, batasi durasi penggunannya. Menahan diri bukan berarti sama sekali Anda tidak boleh menggunakannya.

Anda masih bisa beraktivitas di internet sebagai warganet, Anda masih bisa memainkan media sosial, Anda masih bisa berselancar di dunia maya, namun dengan durasi yang wajar. Jika Anda tidak bekerja melalui smartphone, maka batasi waktu penggunaan maksimal 4-5 jam saja per hari. Jika sebagian besar pekerjaan Anda menggunakan smartphone, singkirkan aplikasi yang tidak memiliki manfaat bagi pekerjaan Anda.

Terakhir, ketahui tujuan Anda menggunakan smartphone. Jika untuk mencari suatu informasi, fokus pada informasi tersebut saja. Jika untuk bekerja, fokuslah menggunakannya untuk bekerja, jika sekedar mencari kesegaran, jangan berlama-lama. Ketimbang iseng menjadi warganet, lebih baik Anda mencari aktivitas real yang lebih bermanfaat untuk menghindari dampak negatif internet.

Baca Juga : 10 Teknik SEO untuk Mangkring di Halaman Pertama

Leave a Reply

Your email address will not be published.